Postingan

LELAKI YANG TAK PERNAH PERGI HINGGA ALLAH YANG MEMANGGILNYA KEMBALI

“Sampai kapan akan seperti ini?” Mama menatap saya. “Sampai kapan mengingat Bapak lalu kemudian sedih seperti ini? Kamu, apa sudah tidak ingat lagi sama Bapak?” tanya Mama kemudian. Saya tersenyum. Tapi rasanya pahit. “Bagaimana bisa saya lupa sama Bapak?” saya bertanya balik. Retoris. “Hanya saja, tiap ingat Bapak, saya tidak pernah bilang sama Mama..” Ya. Bagaimana bisa saya lupa? Bagaimana bisa saya lupa pada Bapak, dan pada hari di mana ujung pena yang saya pegang, dalam tarikan tanda tangan saya, menjadi penentu pada tindakan medis yang akan dijalani Bapak hari itu. Kesadaran Bapak menurun. Suhu tubuhnya meningkat dan kejang datang semakin sering. Oleh spesialis bedah syaraf, kami diberi pilihan agar kembali mengizinkan Bapak untuk berada di meja operasi. Tiga hari dalam perawatan intensif, setelah sebelumnya menunjukkan respon obat yang baik, namun di hari ketiga kondisi Bapak malah menurun. Maka pagi itu, saya menandatangani lembar persetujuan untuk operasi. Dengan b...